Melanin merupakan pigmen alami yang tersebar luas di berbagai organisme, mulai dari mikroorganisme hingga mamalia, memainkan peran krusial dalam perlindungan terhadap radiasi ultraviolet (UV) dan sebagai agen pewarna. Secara kimiawi, melanin bukanlah senyawa tunggal dengan rumus molekul yang pasti, melainkan merupakan polimer kompleks yang terbentuk dari oksidasi enzimatik turunan fenolik, terutama tirosin (C9H11NO3). Struktur molekulnya sangat heterogen dan amorf, terdiri dari unit-unit monomer yang saling terhubung melalui ikatan kovalen yang kuat, membentuk jaringan polimer yang tidak beraturan. Unit-unit monomer ini umumnya berasal dari indol (C8H7N) atau benzotiazina (C7H5NS), yang mengalami berbagai modifikasi dan polimerisasi. Hibridisasi atom karbon dalam struktur melanin bervariasi, namun dominan sp2 pada cincin aromatik dan sp3 pada gugus alifatik, memberikan stabilitas dan kekakuan pada struktur polimer. Ikatan yang dominan dalam melanin adalah ikatan kovalen, baik ikatan sigma (σ) maupun pi (π), yang bertanggung jawab atas integritas struktural dan sifat elektronik pigmen ini. Keberadaan gugus fungsional seperti hidroksil (-OH), karboksil (-COOH), amina (-NH2), dan imina (=NH) pada unit-unit monomer berkontribusi pada sifat amfoterik dan kemampuan melanin untuk berinteraksi dengan berbagai molekul lain.Pembentukan melanin melibatkan serangkaian reaksi biokimia yang kompleks, dimulai dengan hidroksilasi tirosin (C9H11NO3) menjadi 3,4-dihidroksifenilalanin (DOPA, C9H11NO4) oleh enzim tirosinase. DOPA kemudian dioksidasi lebih lanjut menjadi dopaquinon (C9H9NO4), yang merupakan prekursor utama bagi berbagai jenis melanin. Proses polimerisasi dopaquinon ini tidak teratur, menghasilkan makromolekul dengan berat molekul yang sangat bervariasi, seringkali mencapai puluhan hingga ratusan ribu Dalton. Heterogenitas ini menyulitkan penentuan rumus kimia tunggal untuk melanin, sehingga lebih tepat digambarkan sebagai keluarga pigmen dengan struktur polimerik yang...