Sukrosa, dengan rumus kimia C12H22O11, merupakan disakarida non-pereduksi yang terbentuk dari kondensasi satu molekul D-glukosa (C6H12O6) dan satu molekul D-fruktosa (C6H12O6) melalui ikatan glikosidik α-1,2. Struktur molekulnya dicirikan oleh adanya cincin piranosa untuk unit glukosa dan cincin furanosa untuk unit fruktosa, yang dihubungkan oleh ikatan eter. Ikatan glikosidik ini bersifat kovalen, terbentuk antara gugus hidroksil anomerik pada glukosa dan gugus hidroksil anomerik pada fruktosa, menghasilkan molekul yang stabil dan tidak memiliki gugus aldehida atau keton bebas yang dapat mereduksi. Setiap atom karbon dalam struktur sukrosa memiliki hibridisasi sp3, kecuali atom karbon pada gugus karbonil yang telah bereaksi membentuk ikatan glikosidik, yang juga mengadopsi hibridisasi sp3 setelah pembentukan ikatan. Keberadaan banyak gugus hidroksil (-OH) pada molekul sukrosa berkontribusi pada sifat polaritasnya yang tinggi, memungkinkan pembentukan ikatan hidrogen yang ekstensif dengan molekul air dan antarmolekul sukrosa itu sendiri.Secara struktural, sukrosa adalah molekul yang kompleks dengan banyak pusat kiral. Unit glukosa dan fruktosa yang membentuk sukrosa keduanya merupakan monosakarida heksosa, namun dengan struktur cincin yang berbeda. Glukosa umumnya ditemukan dalam bentuk α-D-glukopiranosa, sedangkan fruktosa dalam bentuk β-D-fruktofuranosa. Ikatan glikosidik α-1,2 berarti bahwa gugus hidroksil pada karbon anomerik C-1 dari glukosa (dalam konfigurasi α) berikatan dengan gugus hidroksil pada karbon anomerik C-2 dari fruktosa (dalam konfigurasi β). Ikatan ini merupakan ikatan kovalen yang kuat, dan tidak ada ikatan ionik atau ikatan koordinasi yang signifikan dalam struktur dasar sukrosa. Ketiadaan gugus hemiasetal atau hemiketal bebas menjadikan sukrosa sebagai gula non-pereduksi, yang berarti tidak akan bereaksi positif terhadap uji Tollens atau Benedict, berbeda dengan monosakarida penyusunnya.Molekul...